Home / Sejarah / Sejarah Situ Patenggang – Legenda Serta Mitos Batu Cinta, dan Pulau Asmara

Sejarah Situ Patenggang – Legenda Serta Mitos Batu Cinta, dan Pulau Asmara

Situ-Patenggang-2

WisataPrianganco.id – Situ Patenggang atau Situ Patengan adalah suatu danau yang terletak di kawasan objek wisata alam Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia, terletak di sebuah desa bernama Patengan. Desa ini adalah bagian dari wilayah administratif Kecamatan Rancabali yang lokasinya berada di bawah kaki Gunung Patuha, sebuah Gunung yang sangat erat kaitannya dengan objek wisata Kawah Putih. Terletak di ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut, danau ini memiliki pemandangan yang sangat eksotik. Situ patenggang juga memiliki pemandangan alam yang asri, karena disekitarnya terdapat hamparan kebun teh.

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
Hamparan kebun teh di sekitaran Dananu Situ Patenggang

Luas Situ Patenggang

Luas Situ Patenggang sekitar 45.000 hektar. Serta total luas cagar alamnya mencapai 123.077,15 hektar. Situ patenggang selalu menjadi pilihan wisatawan terutama bagi mereka yang baru pulang dari tempat wisata Kawah Putih. Jaraknya dari wisata kawah putih hanya sekitar 7 KM dan membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja.

img_4313

Sebagai sebuah objek wisata

Situ Patenggang, sebagai sebuah objek wisata alam yang begitu sangat populer di Bandung memiliki cerita yang sangat unik. Ini berawal dari sebuah legenda yang beredar di masyarakat Ciwidey yang hingga saat ini cerita tersebut masih lestari dan dikaitkan dengan nama dari situ/danau tersebut (Patenggang – Patengan). Oleh karena itu, berawal dari sebuah legenda ini pula yang menjadi daya tarik dari tempat wisata di Bandung ini. Secara sederhana, sejarah situ patenggang dimulai dari asal legenda asal mula nama situ ini.

Nama Populer yang digunakan sebagai nama danau ini sebenarnya ada 2, pertama yaitu “Situ Patengan” dan yang kedua adalah “Situ Patenggang”. Kedua nama tersebut memiliki pilosofi tersendiri yang menunjukan identitas situ serta saling memiliki keterkaitan . Apabila wisatawan menyebutnya “situ Patengan” hal ini mengacu kepada nama desa dimana danau ini berada. Nama “Patengan” berasal dari bahasa Sunda “Pateangan” yang artinya saling mencari. Sedangkan nama “Patenggang” sendiri yang juga dari bahasa Sunda yang artinya terpisah dari jarah ataupun waktu.

situ patenggang

Ki Santang Dan Dewi Rengganis

Konon, kedua nama di atas menceritakan sebuah kisah sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis. Ki santang adalah keponakan dari Prabu Siliwangi, seorang raja Padjajaran yang arif dan bijaksana. Sedangkan Dewi Rengganis adalah seorang garis desa yang hidup di sebuah pegunungan. Keduanya memiliki ikatan kasih yang sangat kuat namun terpisah oleh jarak dan waktu (konon mereka terpisah akibat peperangan yang sangat lama). Karena perasaan dan kasih sayang yang begitu besar antara keduanya, akhirnya mereka berupaya untuk saling mencari, hingga pada suatu hari dipertemukan di sebuah batu besar. Batu tersebut dinamakan Batu Cinta. Setelah pertemuan itu, singkat cerita Rengganis meminta Ki Santang untuk dibuatkan sebuah danau dimana terdapat pulau kecil di tengahnya. Karena cinta Ki Santang yang begitu mendalam, akhirnya ia mengabulkan permintaan Dewi Rengganis. Sekarang daratan kecil ini bernama Pulau Sasuka atau dalam bahasa Indonesia bernama Pulau Asmara.

batu-cinta-Situ-Patenggang

Mitos masyarakat yang sangat kuat hingga saat ini “Siapa saja yang ingin hubungannya langgeng, maka datangkah ke Situ Patenggang, datangilah Batu Cinta dan kelilingi Pulau Asmara”.

Tentunya dari aspek wisata, adanya legenda serta mitos Batu Cinta, dan Pulau Asmara menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi para wisatawan selain pemandangan danau serta keindahan cagar alam dan perkebunan teh Rancabali yang mengelilinginya. Oleh karena itu, tidak lengkap rasanya berkunjung ke Situ Patenggang jika tidak menginjakkan kaki di Batu Cinta dan Pulau Sasuka.

Awalnya, Situ ini adalah bagian dari cagar alam atau taman nasional seperti cagar alam lain yang ada di Indonesia. Namun, pada tahun 1981 terjadi sebuah pengembangan yang sangat besar hingga akhirnya menjadi taman wisata alam. Saat ini, Situ Patenggang Ciwidey dikelola oleh PTPN VIII, kawasan Bandung Selatan. Pengembangan demi pengembangan termasuk perbaikan sarana transportasi serta fasilitas pendukung wisata seperti penginapan, sarana ibadah, rumah makan, tempat penjualan cinderamata, tempat parkir, gazebo/shelter, perahu, dan lain-lain yang sampai saat ini terus dilengkapi. Untuk kebersihan, seluruh area bebas dari polusi udara dan sampah apalagi limbah kimia.

Fasilitas dan Kegiatan di Situ Patenggang

Situ Patenggang dikelola sebagai tempat wisata, oleh karena itu tentu saja tempat ini mempunyai sarana wisata yang mencukupi, di antaranya:

  • Gazebo
  • Toilet
  • Mushola
  • Penginapan
  • Area parkir
  • Penyewaan perahu
  • Sepeda air
  • Toko buah
  • Toko souvenir
  • Rumah makan
  • Perahu angsa

Selain berkeliling di tepi danau dan menikmati keindahan alam yang asri, Anda juga dapat melakukan kegiatan wisata berikut:

  • Memancing
  • Bermain sepeda air
  • Mengelilingi danau dengan perahu warna-warni
  • Piknik di pinggir danau
  • Berjalan-jalan di kebun teh
  • Mengunjungi batu cinta
  • Mengelilingi Pulau Asmara

Sumber:situpatenggang.com

Lihat Juga

Thumbnails

Air Terjun Tegenungan di Bali Menyediakan Kenyamanan yang Paling Nyaman

WisataPriangan.co.id – Jika Anda sedang berada di bali, dan menginginkan  ketenangan dan dari keramaian dan ...