Home / Tempat Wisata / Curug Dengdeng – Air Terjun Cantik di Pesisir Tasikmalaya

Curug Dengdeng – Air Terjun Cantik di Pesisir Tasikmalaya

f1400afc4f7566311e40ef923c77f0d94c003e21

Pesisir Tasikmalaya, salah satu Kabupaten di Jawa Barat saat ini lebih dikenal dengan banyak pantai nelayan dengan wisata baharinya. Namun tidak jauh dari ombak besar khas pantai selatan jauh dari keramaian, siapa sangka masih menyimpan air terjun cantik alami yang dihiasi rindangnya pepohonan hijau. Curug Dengdeng, begitu mereka menyebutnya. Secara administrasi terletak di Kampung Caringin, Desa Cikawung Gading, Kabupaten Cipatujah, Tasikmalaya.

Penamaan Curug Dengdeng didasarkan pada bentuk air terjunnya sekaligus menjadi nama resmi yang terdaftar di pemerintahan setempat. Tidak menutup kemungkinan masih ada nama lainnya yang diberikan. Ada yang menyebutkan lokasi Curug Dengdeng di Kampung Cirerese, Desa Tawang, Kecamatan Pancatengah dan ada juga yang menyebutkan lokasinya di Dusun Sangkali, Desa Cogreg, Kecamatan Cikatomas karena memang posisinya menjadi pembatas alami antara dua kecamatan ini. Selain itu, ada juga jalan masuk dari arah Desa Tawang. Ada cerita legenda mengenai bentuk dinding air terjun yang miring. Hal ini konon disebakan akibat dahsyatnya pertempuran antara Pageran Jaya Laksana dengan Pangeran Jaya Nalangsa. Dalam pertempuran dahsyat itu, siapa yang kalah akan terlempar ke jurang. Dinding air terjun tempat mereka bertarung menjadi sedikit landai dan tidak merata. Sejarah lain yang lebih mendekati, yaitu tempat ini sempat menjadi salah satu lokasi persembunyian dan markas DI/TII yang memang kebanyakan menyebar ke bagian Selatan Jawa Barat. Penjelasan mengenai tidak meratanya kemiringan dinding Curug Dengdeng ini mungkin karena adanya gempa atau pengangkatan kembali, atau gerakan sesar.

Curug Dengdeng merupakan air terjun yang cukup lebar dan dan memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama memiiki ketinggian 13 m, tingkatan kedua memiliki ketinggian 11 m, dan tingkatan ketiga memiliki ketinggian 9 m. Pada bagian teratas Curug Dengdeng, banyak ditemukan batuan berukuran bongkahan dan membentuk pothole berbagai ukuran, bahkan yang berdiameter cukup besar hingga menyerupai karang di pinggir pantai. Pothole terjadi karena adanya erosi vertikal pada aliran sungai pada batuan yang tidak terlalu tahan terhadap erosi air. Lubang-lubang ini akan sangat jelas terlihat ketika debit sungai kecil. Lubang-lubang ini menjadi tempat yang cocok bagi ikan-ikan untuk bertelur. Curug Dengdeng memiliki klasifikasi utama yaitu Block dan Cascade. Aliran Sungai Cikembang yang lebar ikut mempengaruhi lebar dinding air terjun sehingga memunculkan klasifikasi Block. Bentuk dinding air terjun yang tidak terlalu vertikal dan memang sedikit miring tetapi tidak merata memunculkan klasifiaksi Cascade. Klasifikasi minor yang muncul antara lain Horsetail meskipun bentuk jatuhan airnya tidak seperti klasifikasi Horsetail pada umumnya. Hal ini didasari oleh aliran jatuhan air yang sebagian besar tetap mempertahankan kontak dengan dinding air terjun sealam proses jatuhannya. Sebenarnya hal ini juga sudah terwakili dengan klasifikasi Cascade, sehingga peniadaan klasifikasi Horsetail tidak akan terlalu berdampak. Pada saat volume terbesarnya, akan muncul klasifikasi Cataract. Aliran Curug Dengdeng memang sedikit kecokelatan, hal ini dikarenakan selain adanya transportasis edimen dan erosi tanah, di aliran sekitar Kecamatan Salopa sudah ada beberapa tambang emas, seperti halnya Cineam.

Curug Dengdeng memang cocok dikunjungi pada musim peralihan penghujan ke kemarau jika ingin melihat aliran jatuhan air yang masih memenuhi dinding air terjun, dan pada musim kemarau jika ingin menikmati batuan dan kola Curug Dengdeng yang akan berwarna kehijauan. Sebagai objek wisata keluarga, jelas, Curug Dengdeng masih jauh dari klasifikasi yang ada, tetapi bagi penyuka petualangan dan objek wisata yang masih sepi, Curug Dengdeng menjadi pilihan yang tepat. Hingga saat ini, Curug Dengdeng mendapat predikat sebagai niagara mini dari Kabupaten Tasikmalaya di Selatan bersamaan dengan niagara kecil dari Kabpaten lainnya di Jawa Barat.

Perjalanan

Perjalanan hampir 90 KM dengan kondisi jalan sudah cukup bagus walau masih didominasi tambalan aspal dengan waktu tempuh sekitar 3 jam dari pusat kota Tasikmalaya. Kendaraan masih dapat melaju dengan baik hingga Desa Cikawung Gading yang menjadi patokan awal ke air terjun ini. Jalan masuk menuju Kampung Carigin bisa ditemukan tidak jauh dari kantor kepala Desa.

Namun jangan kaget, jika jalan sekitar 4 KM berikutnya hanya akan berupa jalan makadam yang tidak begitu rata. Bukti pemerintah daerah belum melirik potensi yang ada di perkampungan ini. Sempat juga terlintas di pikiran, mungkin lebih baik dibiarkan begini saja sehingga dapat menahan laju wisata yang tak terkendali.

Jalur menuju kampung Caringin ada di sebelah kiri jalan. Jadi lebih baik sering-sering bertanya kepada penduduk sekitar arah menuju ke curug Dengdeng saat menemukan persimpangan. Tidak seperti saya yang jadi kebablasan, mungkin terlalu menikmati sensasi offroad-nya. Kendaraan hanya bisa sampai kampung tersebut. Titip saja di halaman warga. Di sini anda akan merasakan keramahan orang Indonesia yang sekarang sulit ditemui. Sampai-sampai merasa seperti keluarga yang sudah lama tidak pulang kampung.

Selanjutkan perjalanan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melewati sungai kecil dan rimbunnya pohon jati. Ajaklah anak-anak sekitar sebagai pemandu. Selain dikhawatirkan tersesat, juga menjadikan mereka sadar akan potensi wisata ini bagi kampung mereka. Hingga kelak mereka akan tetap terus menjaga kelestariannya.

Sekitar 30 menit berjalan kaki dan terakhir disambut dengan jalan menurun yang cukup curam. Perjuangan dibayar setimpal terpampang di depan mata.

Aktivitas

Turun ke tingkat bawah berikutnya bukan hal yang mudah. Hanya jempol kaki yang mendapat pijakan pada pohon kecil mati atau mungkin lebih tepatnya disebut dahan saja sebagai tangga menuruni tebing curam. Di sinilah fungsi berikutnya yang didapatkan dari pemandu-pemandu cilik ini. Menjadi penolong menahan tangga darurat yang memang tanpa pengikat. Cukup menantang namun tentu saja sangat berbahaya.

Jangan cepat merasa puas menikmati keindahannya. Semakin ke bawah, sajian alamnya akan membawa kita sejenak melupakan segala beban hidup yang semakin terasa berat.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya semakin malas beranjak dari tempat ini. Alam yang begitu fotogenic terus saja beraksi di depan mata. Perasaan bahagia rasanya belum cukup untuk berpisah dengannya. Semoga tetap alami dan terjaga keindahannya.

Penting:

  • Cuaca menentukan kondisi air terjun. Saat hujan debit air akan naik dan keruh.
  • Bawalah persediaan air minum yang cukup. Perjalanan akan terasa cukup melelahkan.
  • Jangan tinggalkan sampah. Jangan tinggalkan dosamu di sini.
  • Pemandu sangat dibutuhkan. Gunakanlah.

Sumber: advjourney.com

Lihat Juga

Thumbnails

Air Terjun Tegenungan di Bali Menyediakan Kenyamanan yang Paling Nyaman

WisataPriangan.co.id – Jika Anda sedang berada di bali, dan menginginkan  ketenangan dan dari keramaian dan ...