Home / Ilmu Pengetahuan / Memahami Sejarah dan Hikmah Puasa serta Meneladani Puasa Para Nabi

Memahami Sejarah dan Hikmah Puasa serta Meneladani Puasa Para Nabi

1258339813673
(source : haritsaja)

WisataPriangan.co.id – Puasa merupakan ritual ibadah yang diajarkan oleh para Nabi sejak Nabi Adam A.S hingga Nabi Muhammad S.A.W sebagai penutup para Nabi, namun begitu banyak orang yang berpuasa mereka hanya mendapatkan rasa haus dan lapar, lalu apa sesungguhnya hakikat dari puasa? dan kenapa puasa menjadi ibadah yang begitu istimewa?

1. Hikmah Ramadhan

Ramadhan menjadi bulan istimewa karena pada bulan ini umat islam diwajibkan untuk berpuasa. Shoum (saum/puasa) secara bahasa artinya menahan atau meninggalkan, atau berpindah dari satu perbuatan ke perbuatan lainnya. Shoum juga bisa berarati diam, dan secara terminologi Shoum berarti menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami istri dengan berniat beribadah kepada Allah S.W.T  mulai dari terbitnya fajar hingga terbenam nya matahari.

Puasa mengandung banyak hikmah dan faedah, puasa ditujukan untuk melatih jiwa, untuk mengendalikan nafsu dan mendidik jiwa untuk memegang amanah, puasa juga melatih kesabaran dan ketabahan bahkan puasa juga berfaedah untuk kesehatan.

Selain puasa Ramadhan, ajaran islam juga mengenalkan puasa sunnah seperti puasa 6 hari di bulan syawal, puasa arafah pada tanggal 9 dzulhijah dan puasa tarwiyah pada tanggal 8 dzulhijah bagi yang tidak menunaikan ibadah haji.

Selain itu ada puasa senin kamis, puasa daud dan puasa assyura’ pada tanggal 10 bulan muharam, ada juga puasa tiga hari di pertengahan bulan, namun umat Islam diharamkan puasa di waktu-waktu tertentu, yaitu pada hari raya idul fitri, idul ad’ha dan hari tasyrik yaitu pada tanggal 11, 12 dan 13 dzulhijah.

2. Sejarah Puasa

Perintah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan pertama kali diturunkan pada bulan sya’ban tahun kedua hijriyah, hingga akhir hayat nya Rasulullah S.A.W menjalankan puasa sebanyak 9 kali.

Kewajiban puasa diturunkan secara bertahap, awal nya puasa bersifat pilihan seperti yang dijelaskan di dalam surat Al Baqarah : ayat 184 yang artinya :

“Dan wajib bagi orang yang berat untuk menjalankan ash-shaum maka membayar fidyah yaitu dengan cara memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya. Barang siapa yang dengan kerelaan memberi makan lebih dari itu , itulah yang lebih baik baginya dan jika kalian melakukan shaum maka hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya.”

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan Qoish bin Said yang sudah lanjut usia dan tidak mampu menjalankan puasa, dalam satu riwayat Rasulullah S.A.W datang ke Madinah pada hari Assura’ kemudian beliau berpuasa 3 hari setiap bulan.

Bertahapnya kewajiban berpuasa, disesuaikan dengan kondisi umat islam pada saat itu, ketika para sahabat telah mantap aqidah nya, maka Allah S.W.T menurunkan ayat yang mewajibkan puasa di bulan Ramadhan seperti ang dijelasakan dalam surat AL Baqarah : ayat 185 yang artinya :

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalam nya di turunkan (permulaan) AL Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”

Kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan menurut sebagian ulama dijelaskan juga dalam ayat 183 dalam surat Al Baqarah.

“Yang menarik dari ibadah puasa dan melebihkan dari ibadah lainnya adalah bahwa semua amal ibadah sejatinya diperuntukan bagi hamba yang melakukan ibadah itu, kecuali puasa. Puasa adalah untuk Allah S.W.T dan Allah sendiri yang akan membalasnya.” H.R Bukhori Muslim.

Puasa adalah ibadah yang sangat pribadi hubungan kita dengan sang Khaliq, tidak ada yang mengetahui kita tengah berpuasa kecuali Allah S.W.T . Puasa adalah ibadah yang tidak terlihat, karena itu ibadah ini dilakukan semata-mata karena taat kepada Allah S.W.T, puasa juga merupakan ibadah yang bertujuan mengekang nafsu manusia dari kesenangan dan kelezatan dunia.

Siang hari seorang hamba menahan diri dari semua yang membatalkan puasa dan perbuatan maksiat, di malam hari seorang hamba menyibukan diri dengan Qiyamul Lail dan membaca AL Quran serta merenungi kebesaran-Nya. Ini pula yang melebihkan Ramadhan dibanding bulan lainnya.

Orang yang berpuasa dinilai merugi jika masih menodai dirinya dengan berbicara kotor, fitnah, membicarakan kejelekan orang lain dan menyakiti orang lain serta bersikap sombong.

Ujian puasa dibulan Ramadhan begitu berat, sejarah menceritakan kala itu di tanah Arab, bulan Ramadhan berlangsung dalam kondisi sangat panas dan kering, “RO” dalam kata “RAMADHAN” mempunyai arti “Panas yang membakar”, tidak ada panas yang menyengat selain di vulan Ramdhan.

Di siang hari panas begitu menyengat dan berlangsung lebih lama hingga 16 jam, walaupun kalender umat Islam mengembangkan kalender Qomariyah yang berbasis peredaran bulan, membuktikan bahwa bulan Ramadhan tidak selalu bertepatan dengan musim panas, sehingga Ramadhan memiliki makna Metaforik.

Ramadhan yang artinya membakar, dimaknai untuk membakar dosa-dosa kaum mukmin, karena tujuan akhir berpuasa adalah untuk menjadi orang-orang yang bertakwa, jadi kata panas membakar tidak selalu ditujukan secara fisik dalam pengertian suhu dan cuaca.

3. Hakikat Puasa

Imam Abu Hamid AL-Gazali dalam kitabnya “Ihya’ Ulumuddin” membagi puasa dalam tiga tingkatan.

  1. Puasanya orang Awwam, yaitu puasa yang hanya menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum.
  2. Shaumul Khusus atau puasanya orang khusus, selain menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa juga menjaga panca indera seluruh badan dari segala dosa.
  3. Shaumul Khususo Khusus atau puasanya orang istimewa, selain berpuasa dari yang membatalkan dan berpuasa dari dosa, juga hatinya berpuasa yang berarti tidak lagi memikirkan soal duniawi.

Banyak rahasiah dan hikmah puasa yang bisa kita raih selama menjalankan ibadah ini dengan sungguh-sungguh hingga mencapai tingkatan puasa nya orang istimewa.

Puasa merupakan latihan untuk menguatkan jiwa dalam mengendalikan hawa nafsu, karena hawa nafsu cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan, Allah Ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya. yang artinya :

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya (dan Allah membiarkan nya sesat berdasarkan sepengetahuannya ) dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakan tutup atas penglihatannya, Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkan/nya sesat)? mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.” (QS Al Jasiyah ayat : 23)

Puasa itu mendidik kemauan kebalan untuk meningkatkan keimanan dan memperthankan keinginannya yang baik. Hikmah lainnya puasa bisa menyehatkan badan dan mengenalkan nikmat sehat untuk bersyukur atas nikmat sesungguhnya tidak akan terasa sebelum datang yang namanya penderitaan.

Setelah seharian tidak makan dan tidak minum serta merasakan derita orang yang kelaparan maka kita akan merasakan sebuah kenikmatan makan dan minum pada saatnya ketika berbuka diwaktu maghrib, sehingga rasa syukur kita akan buah dari kenikmatan itu bukanlah rasa syukur basa-basi.

Kita juga dilatih untuk berempati terhadap orang-orang fakir dan miskin, sehingga ujung yang diharapkan adalah aktivitas “berbagi”.

Karena itulah sambutlah datangnya bulan Ramdahan dengan menguatkan “niat ibadah” bukan sekedar perayaan tahunan yang harus dilewati tanpa makna, Ramadhan adalah momentum yang sangat langka untuk mendidik diri, mendidik keluarga dan mendidik masyarakat sehingga mencapat derajat nya orang-orang bertakwa. Amin…

4. Puasanya Para Nabi

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah, ayat : 183)

Imam Al Alusi dalam tafsirnya menjelaskan : “yang dimaksud orang-orang sebelum kalian adalah para Nabi, sejak masa Nabi Adam A.S.”

Nah para pembaca yang di Rahmati Allah S.W.T inilah kisah puasa para Nabiyullah sebelum turun perintah puasa pada bulan Ramadhan.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ibadah puasa diwajibkan selama tiga hari setiap bulannya, seperti yang dilakukan oleh para Nabi, tapi kewajiban ini dihapus dan diganti dengan berpuasa pada bulan Ramadhan.

Menurut Ibnu Abbas, kaum nashrani pada masa itu biasa berpuasa 10 hari di awal bulan dan 10 hari di akhir bulan, dan mereka biasa berpuasa antara musim dingin dan musim panas.

Dalam sebuah riwayat Nabi Adam A.S  berpuasa pada 10 Muharam sebagai rasa syukur karena bertemu dengan istrinya Siti Hawa A.S dipadang Arafah/Arafat, ada pula yang mengatakan Nabi Adam A.S berpuasa sehari semalam setelah diturunkan dari Syurga ke Bumi, Nabi Adam A.S juga berpuasa selama 40 hari 40 malam untuk mendo’a kan keturunannya, Nabi Adam A.S juga berpuasa pada hari jum’at untuk mengenang peristiwa diturunkan nya ke muka bumi, dan Allah S.W.T menerima tobat atas dosa nya memakan buah Khuldi sebagai mana dikisahkan dalam sebuah Hadist Nabi.

“Sesungguhnya Allah menjadikan Adam pada hari jum’at, diturunkan di bumi pada hari jum’at. Dia bertobat kepada Allah atas dosanya memakan buah khuldi pada hari jum’at dan wafat pun pada hari jum’at.” (HR Bukhori) Subhanallah…

Walaupun Al Quran dan Hadist Nabi tidak menjelaskan secara detail bagaimana bentuk puasa Nabi Adam A.S dan generasi sesudahnya. tapi dari berbagai petunjuk diketahui bahwa Nabi Nuh A.S biasa berpuasa 3 hari setiap bulan mengikuti jejak ajaran puasa Nabi Adam A.S.

Puasa selain bertobat kepada Allah S.W.T juga diperintahkan Nabi Nuh A.S terhadap kaum nya saat terkantung-kantung dalam perahu besar ditengah samudera setelah bencana banjir besar yang memusnahkan sebagian besar kaumnya..

Nabi Ibrahim A.S juga biasa berpuasa terutama saat hendak menerima wahyu Allah S.W.T, ajaran puasa Nabi Ibrahim A.S kemudian dilanjutkan oleh putra-putranya Nabi Ismail A.S dan Nabi Ishak A.S.

Nabi Ya’kub A.S juga dikenal biasa berpuasa untuk mendo’akan keselamatan putra-putra nya terutama untuk keselamatan putra tersayangan nya Nabi Yusuf A.S, sedangkan Nabi Yusuf A.S selalu berpuasa pada saat beliau berada di dalam penjara, lalu kebiasaan berpuasa dilanjutkan saat menjadi pembesar kerajaan karena Nabi Yusuf A.S selalu berkata “Aku khawatir jika aku kenyang nanti aku melupakan perut fakir miskin”.

Lain lagi kisah Nabi Ayub A.S yang berpuasa dalam kondisi kekurangan dan menderita penyakit selama bertahun-tahun, sampai Allah S.W.T melepaskan cobaan kesabaran pada Nabiyullah ini.

Beberapa hal tadi membuktikan bahwa ajaran puasa sudah tertulis dalam kitab-kitab terdahulu, Kitab Taurat, Zabur, hingga Injil.

Puasa Nabi Daud A.S termasuk cara puasa yang masih dipakai dan populer hingga saat ini, puasa Nabi Daud A.S dilaksanakan sehari berpuasa sehari tidak, ajaran puasa Nabi Daud A.S ini dilanjutkan oleh putranya Nabi Sulaiman A.S dan Nabi-nabi setelahnya.

Sementara Nabi Musa A.S melaksanakan puasa yang lebih berat dari Nabi-nabi lainnya. Nabi Musa A.S berpuasa 40 hari 40 malam saat berada di Gunung Sinai untuk menerima 10 perintah Allah S,W,T. Setelah menjalankan puasa di Gunung Sinai, Nabi Musa A.S mengalami perubahan yang maha dahsyat, dari wajah nya keluar cahaya yang menakjubkan karena ia berbicara dengan Allah S.W.T.

Inilah syari’at puasa yang dijalankan para Nabi, puasa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya.

Wallahu A’lam…

5. Keutamaan Puasa

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah S.A.W telah bersabda.

“Sholat yang paling disukai Allah adalah sholat Daud dan puasanya yang paling disukai Allah adalah puasa Daud. Dia (Daud) tidur seperdua malam, bangun di sepertiga nya, tidur lagi di seperenam nya dan berpuasa sehari serta berbuka sehari.” (HR Bukhori).

Inilah salah satu dalil tentang keutamaan puasa Nabi Daud A.S, jika memang mampu maka lakukanlah sehari berpuasa sehari berbuka.

Salah satu puasa yang dilarang adalah puasa yang dilakukan setiap hari sepanjang tahun, karena ditakutkan akan melupakan kewajiban dan mengabaikan hak orang lain serta hak tubuh nya sendiri.

Untuk puasa sunnah Rasulullah S.A.W mencontohkan berpuasa pada hari senin dan kamis, suatu saat Rasulullah S.A.W ditanya oleh para sahabat. kenapa berpuasa pada hari senin ?, beliau menjawab :

“Ia adalah hari kelahiranku, hari aku di utus, dan hari diturunkan Al Qur’an kepadaku.” (HR Muslim)

Tapi jangan diartikan Hadist ini sebagai anjuran berpuasa pada hari kelahiran sendiri, Hadist ini hanya memaparkan keutamaan berpuasa pada hari senin.

Pada Hadist lain Rasulullah S.A.W bersabda :

“Berbagai amalan dihadapkan kepada Allah S.W.T pada hari senin dan kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR Tirmidzi).

Mana yang lebih utama? Puasa Daud atau senin kamis?. Rasulullah S.A.W telah berkata kepada isterinya Aisyah R.A :

“Pahalamu tergantung pada kesungguhanmu.”

Hadist ini menjadi sebuah qaidah fikih, semakin sungguh-sungguh suatu ibadah yang dilakukan maka semakin besar fadilah nya, kesungguhan ini meliputi dua hal, yaitu kualitas dan kuantitas nya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang selain memperbanyak kuantitas ibadah juga kualitas nya dan yang terpenting tujuan berpuasa adalah untuk mencapai derajat sebagai orang yang bertakwa, takwa yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W bukan sebagai ajang pamer atau sebagai syarat untuk memperbolehkan kedigdayaan yang menjurus kepada kesyirikan, karena cuma takwa yang diminta oleh Allah S.W.T kepada setiap insan manusia Islam tidak lebih.

Semoga dengan memahami sejarah dan hikmah puasa ini selain menambah wawasan juga meningkatkan ketakwaan kita, dan amal ibadah kita diterima oleh Allah S.W.T.

Amin yaa robbal a’lamin…

Sumber : Khazanah Islam

Lihat Juga

Thumbnails

Lakukanlah ini Jika Sedang Berlibur di Bali, karena semua nya murah hingga yang gratis

Jika Anda bukan orang yang percaya bahwa hal terbaik dalam hidup ini adalah kebebasan. Berikut ...